part 1
“HAH!!”
Bunyi suara burung dipagi hari terdengar riuh dari balik jendela kamar. Rei terbangun dari tidurnya, hanya duduk diam, sembari membayangkan apa yang ia lihat dalam mimpinya barusan
“mimpi kah? … ”
Ia menyeka sedikit keringat yang mengucur dilehernya. Gorden dijendelanya masih tertutup rapat, namun sinar matahari pagi telah masuk melewati celah-celah dibalik gorden, membentuk pola-pola unik didinding kamarnya.
Ia bangun, mengambil weker disamping tempat tidurnya dan menatapnya
Pukul 06.00 pagi hari
“uh … pagi sekali … tetapi sedikit terlambat 20 menit” gumamnya pelan
Ia bangkit berdiri, mengganti baju tidurnya dengan baju sehari-hari, dan beranjak keluar kamar untuk menyiapkan sarapan …
“eh … hari ini giliranku, bukan?” gumamnya lagi, saat dirinya terhenti dikoridor menuju dapur
“hari ini giliran Yuu-nee” dan secara tiba-tiba, sebuah suara yang lembut namun bernada datar, mengejutkannya dari belakang
Rei menoleh, dan disana sudah ada adik perempuan keduanya …
“eh … ah … ohayo, Miki! … pagi sekali hari ini bangunnya?” sapa Rei
“ada kegiatan klub pagi ini …” balas Miki, datar sembari mengulum sebuah permen lollipop dan berlalu melewati Rei
“hey hey … makan permen pagi-pagi nggak baik buat gigi lho!?” Rei mencoba menasehati, namun Miki hanya menoleh dengan ekspresi datarnya, dan berkata
“sehabis ini, Miki akan gosok gigi kok … Rei-nii” dan setelah menunjukkan sikat gigi yang ia genggam, Miki berbelok menuju ke kamar mandi
“hah~” helaan yang dalam keluar dari mulut Rei, lalu “uh … bersiap membangunkan aneki dulu nih …” dengan langkah gontai, Rei bergerak menuju kamar kakak perempuan satu-satunya itu, yang ia tahu … lemah dengan yang namanya “pagi hari” dan sangat susah untuk dibangunkan.
Rei berjalan sempoyongan, sampai ia tiba didepan pintu kamar kakak perempuan satu-satunya itu. Setelah mengumpulkan sedikit keberaniannya, ia mulai memanggil pelan dari luar
"Aneki,"
Sembari mengetuk lembut pintu kayu bertuliskan DO NOT DISTURB yang ditulis dengan warna merah menyala yang catnya sudah mulai mengelupas. Kakak perempuannya itu dulu membelinya dengan harga murah di sebuah obralan. Saat itu kakaknya dengan gaya menakut-nakuti mengatakan bahwa tulisan itu ditulis dengan darah, dan bila ada yang masuk tanpa ijin pemilik kamar akan dikutuk. Sesuatu yang konyol, tapi mampu menimbulkan luka besar pada Rei kecil yang malang, dia begitu trauma sehingga dia enggan masuk ke kamar kakaknya itu, dan hanya mampu meringkuk sambil menyerukan nama kakaknya dan berharap si pemilik kamar segera bangun.
Sampai sekarangpun, sebenarnya Rei masihlah merasakan sensasi tidak enak yang berdebar dalam dadanya tiap dia mendekat ke ruangan ini saat sang pemilik kamar masihlah tertidur lelap bak putri salju. Eh, kalau kakaknya sih bayangkan saja ibu tiri yang jahat yang tertidur, bukan putri salju. Bahkan dia merinding dan punggungnya terasa basah oleh keringat dingin ketika jemarinya bergerak untuk memberi satu kali lagi ketukan. "Aneki,"
Tidak ada jawaban.
"Ane--" Saat ketukan ketiga dia berhenti, telinganya menangkap suara sayup-sayup.
"dimana nii-san?"
"Toilet"
Suara adiknya dan adik keduanya tengah bercengkrama dari arah dapur ! Bila adik pertamanya tahu bahwa dia sedang berusaha membangunkan kakak perempuannya, ia pasti langsung kena omel ! Rei membuat hitung-hitungan kecil dalam otaknya, dia hanya punya waktu sekitar 5 menit untuk membangunkan kakaknya tanpa diketahui adik pertamanya !
"Aneki!" dia mengetuk agak keras "Sudah pagi bangunlah!"
"A--" saat dia memutuskan untuk sedikit mengeraskan suaranya, pintu terbuka dengan tiba-tiba, tubuhnya nyaris terjatuh namun ditahan oleh sesuatu yang memutar tubuhnya kedepan. Sebelum dia sadar betul, dia telah dirangkul dari belakang. Seseorang menempelkan tangannya begitu erat dengan lehernya, hingga dia susah bernafas.
"Selamat pagi, Rei-chan," Bahkan tanpa melihat kebelakang pun, dia tahu bahwa orang yang merangkulnya tengah tersenyum lebar, dari ujung telinga kiri ke telingan kanan, senyum setan. "Pagi pagi sudah ribut, mau mati kau?"
Ya, itulah sang ratu setan, kakak tertuanya, Shizuka.
"gaak...gaaah, agghhh, aaneeki ya--aagh, minta ddiibaaang--huah,kan," Rei berbicara dengan susah payah, bila begini terus, dia akan segera tewas dalam hitungan menit. Dibunuh kakak sendiri karena mau membangunkan kakaknya agar tidak terlambat untuk makan pagi, ironis.
"Hoo?" Kakaknya berbicara begitu dekat dengan telinganya hingga dia bisa merasakan hangatnya nafasnya, rasanya telinga Rei mulai memerah. Tangannya mulai mengendur dari lehernya "Adik pin--" kakak tercintanya itu sekali lagi merangkul Rei hingga dia yakin, dia nyaris saja kehilangan kesadaran karena serangan tiba-tiba itu.
"--tar?"
"tar,"
Sebuah suara mendahului sebelum Shizuka sempat melanjutkan kata-katanya, membuat matanya melebar sedikit sebelum dia tersenyum kecil dan melepas Rei, yang langsung terjatuh dan terbatuk sambil memegang lehernya. "Selamat pagi Yuuna,"
Yuuna?
Dengan gugup Rei menaikan wajahnya, hanya untuk bertemu mata dengan seorang gadis dengan rambut kehitaman panjang yang digerai, sebuah apron dikenakan diatas seragam sekolah yang telah dia gunakan.
Punggunggnya kembali basah oleh keringat dingin.
"eeh--uhuk, pagi...Yuuna?"
Kata-katanya seakan-akan terhisap lenyap dan menghilang ditengah suasana yang sepertinya mendingin, dua saudara perempuan yang saling bertatapan. Shizuka yang berkacak pinggang sambil tersenyum kecil, dan Yuuna yang dahinya berkerut.
Dia marah.
"Nii-san," adiknya berkata duluan, menghancurkan suasana mengerikan itu, lalu dia berbalik, menjauh dari kamar Shizuka. "Sarapan sudah siap, ayo pergi,"
Mengacuhkan Shizuka, bahkan tidak membalas sapaannya. Tidak juga menoleh kebelakang.
"Aneki," Rei bangkit dari lantai, menunjuk arah ruang makan "Kita makan..yuk?"
Shizuka menggeleng dan masuk kembali ke kamarnya "Pergilah duluan, aku akan menyusul,"
*Brak*
Pintu ditutup.
Meninggalkan Rei yang berdiri seorang diri.
No comments:
Post a Comment